Banten memang gudangnya para kiai yang memiliki karomah dengan kesaktian
yang sangat tinggi, salah satunya adalah Mama Falak.
Memiliki
satu kisah menarik tentang Mama Falak di masa kecilnya. Mama Falak merupakan sosok Wali Allah SWT yang memiliki karomah
dan kesaktian yang sangat tinggi.
Mama Falak kecil, sang wali sakti asal Banten ini
memiliki nama asli Tubagus Muhammad Falak.
Mama Falak sang wali sakti asal Banten ini
merupakan putra dari KH. Tubagus Muhammad Abbas, Mama Falak kecil dilahirkan pada tahun
1842 Masehi.
Mama Falak kecil membuat semua orang
yang menyaksikan keramat sakti yang dimilikinya menjadi melongo tidak percaya
akan apa yang terjadi pada Mama Falak kecil.
Adab
masyarakat terhadap Kyai dan keluarganya masih sangat minim saat itu, warga
sulit sekali untuk diarahkan oleh kiainya.
Namun
Kiai Abbas ayahanda Mama Falak kecil begitu telaten dalam mengajari akhlak
terhadap penduduk setempat.
Pada
suatu ketika di hari Jumat, warga telah berkumpul di masjid untuk melaksanakan
salat Jumat.
Tampak
tidak ketinggalan seorang anak kecil berbusana santri yang tubuhnya penuh
dengan penyakit kulit atau buduk.
Sang
anak kecil ini sedang mencari barisan yang akan ia tempati untuk ikut sholat
Jum'at di sana.
Namun
tak ada satupun orang yang mau berdampingan dengan anak kecil itu, dikarenakan
tubuhnya yang penuh dengan budukan.
Waktu
semakin mendesak, khutbah Jumat segera dilaksanakan. Namun anak kecil ini belum
juga mendapatkan barisan.
Sang
bocah kecil sudah sangat kesal hingga memaksa duduk di barisan paling belakang.
Itupun tiba-tiba ada orang yang malah melemparkan sajadahnya dan berkata,
"Heh
bocah buduk, ngapain duduk di situ. sana duduk di bak air saja" hardik
orang tersebut.
Sontak
bocah kecil itu pun terkejut dan dengan rasa sedih, si bocah kecil keluar
menuju bak air.
Bocah
kecil itu pun lalu menghamparkan sajadahnya di atas air dan duduk di atasnya,
sambil mendengarkan khutbah.
Orang-orang yang keluar dari masjid pun dibuat takjub oleh si bocah
kecil yang sedang duduk di atas air itu.
Hingga
akhirnya mereka semua sadar bahwa anak kecil itu adalah sosok yang istimewa dan
luar biasa, bocah buduk ini ternyata bukan bocah sembarangan.
Setelah
peristiwa itu, warga sangat menghormati Mama Falak kecil dan tidak berani lagi
menyepelekannya. Terlebih lagi kepada ayahandanya yaitu Mbah Abbas.
Itulah
pentingnya menghormati orang-orang yang dekat dengan Allah Subhanahu Wa ta'ala.
Sholu 'ala Nabi Muhammad.***
Bacaan kalimat tasbih. Bacaan ini dimaksudkan untuk menyucikan nama Allah SWT sebagai Tuhan segala umat manusia yang ada di muka bumi dan sebagai penguasa serta pengelola seluruh alam semesta..
Kalimat tasbih kerap dibaca sebagai bagian dari doa setelah sholat ataupun doa tahlil. Bacaan tasbih juga disebut dengan kalimat thayyibah karena memang merupakan salah satu dari sekian kalimat yang dicintai atau disukai oleh Allah SWT.
Maka dari itu, sering-seringlah bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai kesempatan, khususnya setelah menunaikan ibadah sholat wajib dan sunnah. Sebab dengan demikian, Allah SWT akan senantiasa melimpahkan berkah dan rahmat-Nya kepada kita.
Adapun bacaan tasbih, tahmid dan takbir adalah:
- Tasbih: Subhanallah (سبحان الله), artinya Maha Suci Allah.
- Tahmid: Alhamdulillah (الحمد لله), artinya Segala Puji Bagi Allah.
- Takbir: Allahu Akbar (الله أكبر), artinya Allah Maha Besar.
Kalimat tasbih ini sebaiknya dibaca pada saat melihat sesuatu yang menakjubkan, sebuah keajaiban atau mukijzat yang diciptakan oleh Allah SWT seperti pemandangan yang indah, setelah terhindar dari bencana alam, atau disembuhkannya seseorang dari penyakit parah.
Semua itu dibaca dengan tujuan menyucikan nama Allah SWT dan meyakini dalam hati bahwa Allahlah yang di dunia ini benar-benar suci, tidak ada yang lain.
Sejarah dan Asal Mula Kalimat Tasbih
Diriwayatkan dalam sebuah hadist bahwa dahulu ada satu malaikat yang memiliki 18 ribu sayap yang masing-masing sayapnya berjarak 500 tahun cahaya. Nama malaikat tersebut adalah malaikat Hauqobail, dia bergumam dalam hati, berapa luas Arsy (Surga) Allah?
Kemudian Allah memerintahkannya berkeliling untuk mengetahui luasnya, namun selama 20 tahun, dia tak menemukan satu pun penyangga Arsy yang artinya dia sama sekali belum mengelilinginya secara penuh. Allah pun melipat gandakan sayapnya menjadi 36 ribu namun dia tetap tak bisa menemukan ujung dari Arsy.
Kemudian Allah SWT berseru:
"Hai malaikat, apabila kamu terbang terus-menerus, bahkan terbang sampai hari kiamat dengan dibekalkan sayap dan kekuatanmu itu maka niscaya kamu tidak akan dapat menemukan batas hujung luas Arsy."
Menyadari apa yang dikatakan Allah SWT, malaikat Hauqobail pun bersujud sambil mengagungkan nama Allah sWT dengan membaca tasbih. Inilah asal mula serta sejarah kenapa bacaan tasbih menjadi bacaan sujud dalam sholat wajib.
سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى
Artinya: "Maha suci Tuhanku yang maha mulia."
Melalui peristiwa itu, Allah turunkan surat Al-A’la dan Baginda Nabi Muhammad bersabda :
اِجْعَلُوْهَا فىِ سُجُوْدِكُمْ
Artinya: "Jadikanlah bacaan Tasbih itu dalam sujud kalian."
Diriwayatkan bahwa, diantara mayat yang dihidupkan oleh Nabi Isa AS (Mukjizat Nabi Isa) adalah seorang yang telah meninggal selama 70 tahun.
Ketika kuburan terbuka dan ruh kembali lagi ke jasadnya, mayat orang itu terbangun dan bertanya, "Apakah kiamat telah terjadi?"
Orang-orang yang hadir ketika itu menjawab, "Belum... Tapi utusan Allah, Nabi Isa AS telah meminta kepada-Nya untuk menghidupkanmu"
Orang (mayat) tersebut bertanya, "Wahai Nabi Isa, mengapa engkau meminta untuk menghidupkan aku?"
Nabi Isa AS lalu bertanya, "Sejak kapan engkau meninggal?"
Orang itu menjawab, "Kurang lebih 70 tahun yang lalu"
Nabi Isa AS bertanya lagi, "Ceritakanlah, apa kebaikanmu?"
Orang itu menjawab, "rata-rata amalku baik dan Allah SWT telah mengampuniku... kecuali satu hal"
Nabi Isa AS bertanya, "Apa itu?"
Orang itu menjawab, "Pekerjaanku adalah tukang angkut barang... Suatu ketika aku mengangkut satu ikat kayu bakar milik seseorang dan ketika aku telah sampai kerumahnya untuk mengantarkan kayu bakarnya... Makanan kecil menyelip digigiku... Tanpa seizin darinya, aku mengambil potongan kecil dari kayu bakarnya untuk tusuk gigi...
Dan Allah SWT menghisabku gara-gara tusuk gigi itu dan Dia memerintah agar aku mengganti haq nya... Selama 70 tahun aku dihukum, gara-gara tusuk gigi itu...
Saat ini aku sedang menunggu si pemilik kayu bakar tersebut..
Bila ia telah meninggal dan menghalalkan tusuk gigi tersebut untukku maka Allah Swt akan mengampuniku.
Jika tidak maka Allah tidak akan mengampuniku selama pemiliknya tidak menghalalkannya.
Malaikat Izrail menjadi malaikat yang paling ditakuti oleh
manusia. Kedatangannya menjadi pertanda bahwa usia tidak lagi lama. Tidak hanya
manusia biasa, namun Ia juga mendatangi para Nabi dan utusan-Nya.
Nabi Sulaiman dalam sebuah kisah pernah dikunjungi Malaikat
Izrail. Namun tujuannya bukan untuk mencabut nyawa Nabi yang mampu berbicara
dengan para binatang ini. Sang Malaikat justru terpaku dengan tatapan yang
begitu tajam.
Ternyata, malaikat pencabut nyawa ini sedang
menatap seorang tamu yang sedang berkunjung ke rumah Nabi. Karena tatapannya
ini, tamu pun sangat ketakutan dan meminta sang penguasa angin untuk
memindahkannya ke Negeri Cina. Apa yang terjadi selanjutnya?
Tidak seorangpun yang mengetahui kapan dan
bagaimana ia akan meninggalkan dunia ini. Sebab, Allah SWT merahasiakan perkara
yang satu ini dari ciptaan-Nya. Kematian setiap makhluk sudah ditakdirkan,
tanpa terkecuali.
Ada banyak cara yang dilakukan oleh malaikat maut
untuk mencabut nyawa manusia, tentu saja itu semua atas perintah dari Allah
SWT. Mendatangi rumah atau menjelma menjadi makhluk juga digunakan malaikat
Izrail untuk mencabut nyawa manusia.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan jika pada suatu
hari malaikat pencabut nyawa (malaikat Izrail) mendatangi rumah Nabi Sulaiman.
Di saat itu ada seorang pemuda yang tengah bertamu dan bercakap-cakap dengan
Nabi di rumahnya.
Begitu masuk ke dalam rumah tersebut, di saat
melihat pemuda tersebut tiba-tiba saja pandangan malaikat Izrail berubah
menjadi lebih tajam. Hati pemuda tersebut kemudian berdebar-debar karena
dipandangi dengan sangat tajam oleh tamu sang nabi. Tidak hanya itu, ia juga
merasa ketakutan dengan apa yang sudah terjadi.
Beberapa saat kemudian, malaikat maut tersebut
pergi meninggalkan Nabi Sulaiman dan pemuda tadi. Setelah melihatnya pergi,
maka bertanyalah pemuda tadi kepada Nabi Sulaiman. “Ya Nabi Sulaiman
alaihissalam, siapakah orang tadi?”
Nabi Sulaiman menjawab, “Itu adalah malaikat maut
yang sedang menyamar menjadi manusia.” Pemuda tersebut berkata, “Sungguh aku
tidak nyaman dengan pandangannya yang terus-menerus menatapku. Aku menjadi
takut jangan-jangan dia ingin mencabut nyawaku. Ya Nabi Sulaiman, sebagai
seorang nabi yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menguasai angin, bisakah kau
menyuruh angin untuk menerbangkanku ke negeri Cina? Semoga dia tidak bisa
mengejarku ke negeri Cina.” Nabi Sulaiman berkata, “Apabila memang sudah
waktumu untuk meninggal, bukankah kau tidak bisa lolos dari kematian?” “Ya,
tetapi aku ingin mencobanya. Wahai nabi Sulaiman, aku mohon kepada engkau agar
menyuruh angin untuk membawaku ke negeri Cina”, katanya.
Setelah memohon dengan sungguh-sungguh akhirnya
Nabi Sulaiman bersedia mengabulkan keinginan si pemuda tadi. Dengan mukjizat
dari Allah SWT yang telah dilimpahkan kepada Nabi Sulaiman maka ia bisa
memerintahkan angin untuk membawa pemuda itu ke negeri Cina sesuai dengan
permintaannya.
Hingga akhirnya sampailah pemuda tersebut ke
negeri Cina. Beberapa lama setelah kejadian tersebut, datanglah malaikat maut
kepada Nabi Sulaiman. Lantas, bertanyalah Nabi mengapa malaikat maut itu
menandangi pemuda tersebut dengan pandangan yang tajam.
Kemudian malaikat maut menjawab, “Sesungguhnya aku
diperintahkan oleh Allah untuk mencabut nyawa pemuda itu pada saat yang telah
ditentukan (hari itu) di negeri Cina. Aku memandanginya karena keheranan,
mengapa Allah menyuruhku untuk mencabut nyawanya di negeri Cina sementara aku
melihatnya sedang berada di dekatmu?” Maka malaikat maut melanjutkan, “Ternyata
pahamlah aku, karena tidak lama setelah aku pergi, tiba-tiba angin membawanya
ke negeri Cina. Dan aku telah mencabut nyawanya hari itu di Cina.”
Dari kisah di atas bisa diambil pengajaran
bahwasanya tidak ada satupun orang yang dapat menolak datangnya kematian
kemanapun ia pergi untuk menghindarinya. Maka terimalah segala sesuatu sudah
ditakdirkan Allah SWT kepada kita.
Dikisahkan ada seorang
tukang es cendol yang belum pernah sama sekali menghadiri maulid nabi Saw.
Setiap hari ia keliling dari kampung ke kampung untuk menjual es dagangannya.
Namun es yang terjual hanya sedikit. Pada suatu hari, ia melihat orang-orang berkumpul dimasjid
yang sedang mengadakan maulid nabi SAW. dan dia putuskan untuk berdagangdi masjid
tersebut dengan harapan dagangannya banyak yang laku.
Selesei acara, para
jamaah membeli semua es nya hingga habis semua dagangannya.
Keesokan harinya dia keliling kampung lagi untuk mencari
tampat yang mengadakan maulid nabi SAW dengan niat yang sama yaitu menjual es .
Selesai acara, para
jamaah membeli es nya hingga habis terjual. begitu seterusnya hingga terbesit
dalam fikirannya untuk mencari tau apa yang sebenarnya orang -orang lakukan
dengan acara maulid.
Suatu hari, ia berniat tidak hanya menjual es seperti
biasanya namun juga berniat untuk mencari tau akan maulid nabi. ketika sedang
mengikuti acara tersebut, hatinya mulai tersentuh dengan untaian-untaian indah
akan riwayat Nabi Muhammad SAW dari pembacaan maulid tersebut.
Keesokan harinya, ia keliling kampung lagi dengan niat bukan
jualan es, namun ingin menghadiri maulid nabi SAW dan begitu seterusnya.
sehingga ketika acara telah usai, ia tidak lagi menjual es nya namun
dibagi-bagikan secara gratis kepada jamaah yang hadir. Setiap hari ia mencari
tempat yang mengadakan mauid dan membagi-bagikan dagangannya kepada jamaah
secara gratis. begitu seterusnya.
Suatu hari, ada salah satu jamaah yang bertanya kepada
penjual es tersebut" wahai penjual es....kenapa engkau membagi-bagikan
daganganmu secara cuma-cuma, apakah engkau tidak rugi????".kemudian si
tukang es cendol menjawab" aku ingin menghormati para tamu Rasulullah SAW,
dengan bagi-bagi semua es yang aku punya."
kemudian dalam hati, ia berniat ingin mengadakan maulid
dirumahnya ditahun depannya. sehingga ia semangat berdagang, dan keuntungannya
dibagi dua, yang satu buat perputaran modal, yang lainnya ia sisihkan buat
persiapan acara maulid. Ia lakukan hari demi hari, minggu demi minggu, bulan
demi bulan, hingga sampai pada tanggal 12 rabiul awal. Ia persiapkan semua
kebutuhan acara maulid dengan membeli makanan dan buah-buahan, dan ia siapkan
makanan untuk 100 orang dirumahnya.
Sore hari, setelah sholat ashar, ia keliling ketetangga untuk
menyebarkan undangan maulid yang akan diadakan dirumahnya. Setelah isya', ia
menunggu para jamaah, namun belum juga datang. Jam menunjukkan pukul 21.00
belum juga ada yang hadir, hingga pukul 11. 00 pintu -pintu rumah sudah mulai
tertutup, namun belum juga satu orang pun yang hadir. Kemudian ia putuskan
untuk mengadakan maulid bersama keluarganya saja ( 1 istri dan 2 anaknya). ia
awali pembacaan kitab maulid.
saat itu air mata kerinduan dan kecintaan akan baginda Nabi Muhammad SAW mulai
menetes hingga membasahi pipi. Pembacaan maulid terus berlanjut dan air mata
semakin deras mengalir. ditengah-tengan pembacaan maulid, ia bertanya-tanya
dalam hati kenapa orang-orang yang telah diundangnya tidak mau menghadiri
maulid dirumahnya.
kemudian, ketika
pembacaan maulid sampai pada saat berdiri (محلالقيام) air mata terus mengalir hingga tak terbendung lagi, mereka sekeluarga
tetap melanjutkan pembacaan sholawat.
Tiba-tiba datang segerombolan manusia kerumahnya dengan pakaian putih,
bersorban putih dan berbaris. Kemudian dari ujung jalan ada sosok seorang yang
sangat berkharisma dan berwibawa dengan memancarkan cahaya dari wajahnya menuju
rumahnya. Lalu si tukang es cendol bertanya" siapa engkau wahai tuan?
"saya belum pernah
melihat engkau?? apakah engkau warga baru disini??"
Lalu tamu tersebut
menjawab : " Namaku adalah yang selalu kamu sebut dalam maulid dan
sholawat, hatimu selalu menyebut namaku dimanapun dan kapanpun..
Kerinduanmu padaku
membuat kamu cinta kepadaku". Kemudian tukang es cendol tersebut sadar
bahwa tamunya itu adalah baginda Nabi Muhammad SAW.
Subhanallah.......
Nabi Yusuf diberikan anugerah
oleh Allah Swt berupa dua anak yang bernama Afrayim dan Mansa. setelah Allah Swt memberikan kekuasaan dan
kenikmatan dunia. beliau pun merasa rindu untuk bertemu dengan Tuhannya.
Allah Swt berfirman :
‘’Tuhanku Sesungguhnya
engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan kau telah
mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi, wahai tuhan Pencipta langit dan
bumi engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat wafatkanlah aku dalam
keadaan muslim dan Ingatlah aku dengan orang yang Soleh (Qs. Yusuf : 101 )
ketika ajal Nabi Yusuf telah
dekat beliau mengumpulkan kaumnya dari keturunan nabi Yaqub dan memberikan
wasiat kepada Yahuda untuk mengarahkan kaumnya. setelah itu beliaupun meninggal
dalam usia 120 tahun mengenai tempat dimakamkannya Nabi Yusuf ,
Nabi Muhammad Saw menyebutkan dalam sebuah Hadits yang
Shahih
‘’ bahwa Nabi Musa ketika
akan keluar dari Mesir beliau mengeluarkan jenazah Nabi Yusuf dari makam di
dalam air kemudian membawanya ke Baitul Maqdis.
hadis tersebut diriwayatkan
oleh Abu Musa al-asy'ari radhiallahu Anhu :
bahwasanya suatu hari
Rasulullah Saw mendatangi seorang Arab badui ,kemudian diapun menjamu beliau
dengan sangat baik.
maka Rasulullah Saw kemudian
bersabda kepadanya :
‘’Datanglah kepada kami
berkunjunglah kepada kami ‘’
orang badui tersebut
kemudian mendatangi Rasulullah Saw
Kemudian beliau pun Bertanya
kepadanya :
‘’Mintalah apa yang kamu
butuhkan’’
dia menjawab : seekor unta
yang bisa kami tunggu dan kambing yang bisa diperah susunya oleh keluargaku.
Rasulullah Saw kemudian
bersabda :
‘’Apakah kalian tidak bisa
untuk menjadi orang yang seperti wanita tua dari Bani Israil.’’
para sahabat pun
bertanya-tanya tentang Siapakah yang dimaksud dengan wanita tua akan Israel
tersebut.
beliau kemudian menjelaskan
bahwa Ketika Nabi Musa hendak pergi bersama Bani Israil untuk keluar dari Mesir.
Mereka pun tersesat dan tidak tahu arah jalan,
Nabi Musa kemudian bertanya :
Apa yang terjadi ?
para ulama Bani Israel
kemudian berkata :
Ketika Nabi Yusuf menghadapi
ajalnya beliau telah meminta janji kepada kita agar kita tidak keluar dari
Mesir sampai kita membawa serta jasad beliau.
Nabi Musa kemudian bertanya
siapakah yang mengetahui Dimana letak beliau dimakamkan ?
Nabi Musa kemudian memanggil
dan memberikan utusan kepada wanita tua dari Bani Israil.
Beliau berkata kepadanya :
“Tunjukkanlah kepadaku
dimana makam Nabi Yusuf ?, wanita tersebut melaksanakan perintah Nabi Musa,
Tetapi dia mensyaratkan satu hal kepada Nabi Musa bahwa wanita tua tersebut
meminta tinggal bersama nabi musa di surga nanti.
Nabi Musa pun merasa
keberatan dengan permintaan tersebut karena beliau memang bukan orang yang
memiliki hak untuk memasukkan orang yang beliau inginkan ke surga tetapi
allah-lah yang berhak untuk menentukan siapa yang akan masuk surga dan di
tingkatan surga mana dia akan ditempatkan, hanya Allah swt yang maha
mengetahui.
kemudian Allah Swt mewahyukan
kepada Nabi Musa untuk memberikan syarat yang minta wanita tua tersebut. kemudian nabi musa dituntun ke sebuah danau
atau tempat yang dipenuhi dengan air.
Dia kemudian berkata : kuras
lah air dari Danau ini. Bani Israil pun kemudian mengeluarkan air itu dan
mengeringkan tempat tersebut .
Setelah itu wanita tersebut
berkata lagi : Galilah di tempat ini dan keluarkanlah jenazah Nabi Yusuf . setelah
mereka membawa serta jenazah Nabi Yusuf bersama mereka. akhirnya jalan pun
menjadi terang-benderang bagi mereka dan mereka mengetahui arah perjalanan
untuk keluar dari Mesir .
Dalam sebuah riwayat lain
dari urwah bin Zubair radhiallahu Anhu disebutkan : ‘’bahwa Nabi Musa telah
menjanjikan kepada Bani Israil bahwa beliau akan keluar bersama mereka dari
Mesir ketika terbit fajar tetapi karena peristiwa tersebut yang mana beliau
harus mencari tempat dimakamkannya Nabi Yusuf , akhirnya beliau meminta kepada
AllAh Swt agar Allah menahan matahari untuk tidak terbit sampai beliau selesai berkenaan
dengan jenazah Nabi Yusuf . yang kemudian wanita tua tersebut menunjukkan
kepada Nabi Musa Tempat dimakamkannya Nabi Yusuf di salah satu sisi Sungai Nil.
hingga akhirnya dipindahkan
oleh Nabi Musa dan dibawa beliau ke Baitul Maqdis serta dimakamkan di samping
makam ayahnya Nabi Yakub dan kedua kakeknya Nabi Isa dan Nabi Ibrahim .
Seorang penggali kubur menemukan jasad berumur ratusan tahun,
namun kain kafan yang membungkusnya tetap utuh. Tidak hanya itu, jasad tersebut
ternyata hidup lagi dan berbicara.
Cerita ini termaktub dalam kitab ‘uyun al-hikayat min Qashash
ash-Sholihin wa Nawadzir az-Zahidin karya Ibnu Jauzi,
ulama termasyhur yang banyak dijadikan rujukan.
Kisah ini bermula dari cerita seorang tukang gali gubur di
al-Mar’asyy di Antiokia, kini masuk wilayah Suriah. Suatu hari,
tukang gali kubur itu bercerita kepada ulama bernama Abu Ali ar-Rabzabadi.
Tukang gali kubur itu bercerita, suatu ketika saat ia sedang
menggali kubur, ia menemukan sebuah liang lahad. Sekop yang ia gunakan untuk
menggali, membentur sesuatu di dalam tanah. Ternyata, setelah diselidiki,
sebuah liang lahad.
Ia merasa, liang lahad itu aneh. Agak kasar memang, tapi bukan
itu yang jadi masalah.
Umur liang lahad itu sudah tampak tua. Ia memprediksi, lubang
itu mungkin berumur ratusan tahun atau lebih. Terbukti, sekop yang biasanya
gampang digunakan untuk memecah batu atau tanah, tidak berfungsi.
Sebagai ahli kubur, ia langsung mengerti. Mungkin yang dikubur
adalah orang kaya atau sejenisnya. Tapi, ketika ia melihat lebih dalam,
tampaknya tidak seperti orang kaya.
Dari lubang itu, tampak sebuah cahaya. Mungkin sekopnya sedikit
merusak nisan hingga menimbulkan lubang. Dari lubang itu, terlihatlah jasad
seorang pemuda di dalamnya. Nisan tersebut masih utuh. Begitu pun jasad di
dalamnya. Jasad seorang pemuda.
Sontak, penggali kubur itu kaget. Bagaimana bisa nisan yang
tampak berumur ratusan tahun itu masih utuh?
Penggali kubur itu tambah heran. Jenggot pemuda itu tampak
bergoyang-goyang diterbangkan angin yang berhembus dari lubang tempat penggali
kubur itu mengintip.
Belum habis kekagetannya, tiba-tiba mata jasad tersebut
terbuka dan melihat ke arah penggali kubur.
“Sahabatku, apakah kiamat sudah
tiba?” tanya pemuda itu.
Lidah penggali kubur itu langsung kelu. Ia hanya bisa menjawab
lirih karena dikuasai ketakutan.
“Belum.”
“Jika begitu, tutup kembali,” kata pemuda itu.
Lalu, penggali kubur itu pun menutup lubang dan menimbunnya
kembali dengan tanah. Wallahu
'alam.
Kecamatan Ambunten
dikenal sebagai wilayah yang penuh dengan kisah karomah waliyullah. Seperti
kisah karomah Kiai Macan alias Raden Demang Singoleksono yang dikisahkan
memiliki banyak karomah, salah satunya ialah ketika ada warga kemalingan, cukup
dengan menabuh kentongan kecil, maka saat itu juga si maling menyerahkan diri
sekaligus membawa kembali barang curiannya.
"Kiai Macan
juga dikenal dengan karomahnya yang menaiki pe-sapean pappa (pelepah pisang
yang biasa dibuat sapi-sapian oleh anak kecil) sembari terbang saat mengambil
panji-panji Keraton Sumenep yang dibawa ke Blambangan. Pulangnya beliau naik
Mondung (Hiu) seorang diri,"kata Nyai Hajjah Munifah, salah satu keturunan
Kiai Macan di Desa Ambunten Timur.
Tak hanya kisah
kekeramatan Kiai Macan, ada lagi kisah karomah 2 wali di Ambunten yang konon
masih bisa terlihat hingga saat ini pada orang-orang tertentu. Yaitu kisah
karomah 2 wali di Sungai Pandi Ambunten Tengah.
Syahdan, di suatu
masa sekitar pertengahan tahun 1800-an hiduplah seorang ulama besar di Ambunten
bernama Kiai Rausyi. Kiai Rausyi masih memiliki hubungan darah dengan Kiai
Macan Ambunten. Beliau juga disebut masih berkerabat dengan Kiai Mahmud
Aengpanas, ayah Kiai Imam, pendiri pesantren Karay, Ganding.
"Suatu ketika
Kiai Mahmud diriwayatkan bertamu ke kediaman Kiai Rausyi yang berada di pinggir
Sungai Pandi, yang sekarang masuk wilayah Desa Ambunten Tengah,"kata Kiai
Raheli, yang leluhurnya memiliki hubungan kekerabatan dengan Kiai Rausyi.
Sesampainya di
kediaman Kiai Rausyi, Kiai Mahmud berkata pada Kiai Rausyi bahwa dirinya ingin
makan ikan laut. Lalu Kiai Rausyi bergegas mengambil jaring yang biasa
digunakan para nelayan dan menghamparkannya ke halaman rumah beliau. Seketika
atas ijin Allah, jaring dipenuhi oleh ikan-ikan laut yang masih hidup dan
menggelepar di jaring tersebut.
"Akhirnya
dimasaklah ikan-ikan tersebut oleh Kiai Rausyi dan dihidangkan kepada Kiai
Mahmud,"cerita Kiai Raheli. Setelah selesai makan, Kiai Rausyi seperti
yang ditirukan Kiai Raheli berkata pada Kiai Mahmud, "sekarang giliranmu,
saudaraku".
Mendengar itu, Kiai
Mahmud mengambil sisa-sisa ikan bakar yang kepalanya masih menyatu dengan
tulang sampai ekor, namun sudah tiada berdaging, karena telah dimakan. Ikan
bakar tersebut lalu dilempar oleh Kiai Mahmud ke sungai Pandi yang tak jauh
dari situ. Ajaib, ikan yang tak berdaging itu atas ijin Allah hidup dan
berenang-renang di sungai.
"Ikan tersebut
hingga saat ini dari cerita warga kadang menampakkan diri. Namun tidak
semua orang bisa menjumpainya di Sungai Pandi,"kata Raden Imamiyah,
keturunan Kiai Macan sekaligus Kiai Mahmud, yang ada di Ambunten.
Namun, konon, seperti yang dikatakan Imamiyah, biasanya warga atau orang
yang melihatnya tidak lama hidup alias pendek umurnya. "Dari dulu memang
dikenal seperti itu. Tapi yang namanya mati itu ya tetap dikembalikan pada
ketentuan Allah. Sudah ajalnya,"tutup Imamiyah.
Ini kisah syekh Nawawi pernah sholat di mulut
ular. Kejadian ini adalah salah satu karomahnya.
Dikisahkan suatu
hari syeikh Nawawi al Bantani sedang melakukan beristirahat di suatu tempat.
Suasana sepi tak ada seorang pun. Tak lama kemudian terdengar azan Asar
menggema. Namun kemudian tidak ada seorangpun yang datang untuk berjamaah.
Akhirnya beliau iqomat sendirian dan melakukan shalat.
Setelah itu Syekh
Nawawi kembali melanjutkan perjalanan. Beliau berjalan dengan mata lurus ke
depan. Setelah beberapa lama Syekh Nawawi menengok ke belakang. Betapa kagetnya
ternyata ada seekor ular raksasa yang mulutnya sedang menganga. Akhirnya beliau
sadar bahwa tadi diketahui melakukan shalat di dalam mulut ular yang sangat
besar itu.
Kisah Syekh Nawawi
sholat di mulut ular ini diceritakan oleh KH Nawawi. Menurut ulama asal Subang
ini masih banyak karomah syekh Nawawi yang bisa menjadi teladan kita saat ini.
Tentu disamping juga keilmuannya yang luar biasa mumpuni.
Syekh Nawawi
al-Bantani lahir di Tanara Banten tahun 1813. Beliau adalah ulama karismatik
dan mahaguru ulama Jawa pada abad 19. Disamping muridnya yang banyak,
karya-karyanya juga banyak. Syekh Nawawi bernama Abdullah al-Mu’thi Muhammad
Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-Jawi. Sejak kecil mempelajari ilmu
agama dengan tekun.
Kemudian
melanjutkan nyantri kepada Kiai Yusuf seorang ulama besar di Purwakarta.
Menginjak usia 15 tahun bersama dua orang saudaranya pergi ke Tanah Suci untuk
berhaji. Namun kemudian Nawawi muda tidak pulang tetapi menuntut ilmu.
Syekh Nawawi kemudian berguru kepada Imam Masjid
al-Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh
Nahrawi, dan Syekh Ahmad Dimyati. Selain itu tercatat nama Ahmad Zaini Dahlan,
Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani sebagai gurunya.
Tekun dan cerdas
menjadikan Nawawi murid yang terpandang di Masjid al-Haram. Tak salah kalau
Ahmad Khatib Sambas uzur menunjuk Nawawi sebagai menggantikannya menjadi Imam
Masjid al-Haram dengan panggilan Syekh Nawawi al-Jawi.
Syekh Nawawi juga
dikenal seorang pendidik yang ulung. Banyak muridnya menjadi ulama mumpuni
seperti KH Kholil Bangkalan, KH Asnawi Kudus, KH Tubagus Bakri, KH Arsyad
Thawil dari Banten, dan KH Hasyim Asy’ari dari Jombang. Muridnya tidak
hanya dari Indonesia melainkan dari berbagai belahan dunia.
Kecemerlangan
syekh Nawawi bertambah ketiak beliau dikenal sebagai penulis yang produktif.
Dalam buku Dictionary of Arabic Printed
Books disebutkan
ada 34 karya. Sedangkan beberapa orang menyebutnya karyanya lebih 100 judul
buku. Diantara karyanya yang terkenal adalah Tafsir Marah Labid, Atsimar
al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, dan
al-Aqdhu Tsamin.
Syekh Nawawi
al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Syeib A’li, pada 25 Syawal 1314 H/1879
M. Lahul Fatihah
Seorang ahli ibadah selama 220 tahun
bahkan sudah memiliki ribuan santri, meninggal dunia dalam keadaan kafir dan
su’ul khatimah. Lantas perbuatan apa yang menyebabkan dirinya kafir dan mati
dalam keadaan buruk ?
Kisah ini dialami oleh Barshisha,
seorang ahli ibadah yang mempunyai 60.000 santri, dan seluruh santrinya bisa
berjalan di angkasa karena berkah ilmunya.Tak tanggung-tanggung, ia beribadah
selama 220 tahun tanpa sekalipun melakukan perbuatan maksiat.
Melihat para malaikat sangat kagum
dengan sosok tersebut, Allah SWT kemudian berfirman:
“Apa yang kalian kagumkan darinya, sesungguhnya aku
lebih mengerti dari apa yang kalian mengerti. Sesungguhnya Barshisha dalam
pengertian-Ku akan berbuat kufur dan masuk neraka untuk selama-lamanya sebab
minum khamar”.
Mendengar firman Allah SWT tersebut,
para Iblis laknatullah pun tersenyum dan mengerti apa yang harus ia lakukan
guna menggoda Barshisha.
Iblis kemudian mendatangi Barshisha
di pondoknya dengan menyamar sebagai pemuda ahli ibadah yang memakai jubah
putih terbaik dan juga memakai wewangian.Barshisha kemudian memanggil si
pemuda tersebut seraya bertanya, “Siapa kamu dan ada keperluan apa ke sini?”
Iblis kemudian menjawab, “Saya adalah seorang
hamba. Saya datang untuk membantu ibadahmu kapada Allah SWT.
“Barangsiapa yang ingin beribadah
kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai pemiliknya,” jawab Barshisha.
Iblis i’tikaf dan kemudian beribadah
di masjid selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan tidur.
Melihat ibadahnya yang seperti itu,
Barshisha takjub seraya berkata: ”Saya beribadah kepada Allah selama kurang
lebih 220 tahun, namun tidak pernah mengerjakan seperti apa yang kamu
kerjakan?”.
Kemudian iblis berkata, “Aku telah
berbuat dosa, oleh sebab itu aku terus mengingatnya agar rasa kantuk, lelah dan
laparku hilang”.
Kemudian Barshisha bertanya,
“Bagaimana caranya agar aku bisa seperti engkau?”
Kemudian Iblis menjawab, “Pergi dan
berbuat maksiatlah kepada Allah SWT, kemudian cepat-cepat bertaubatlah, karena
Allah maha pemberi ampun.”
Barshisha lanjut bertanya, “Apa yang
harus aku lakukan?”.
Iblis lalu menjawab dengan lantang,
“Zina!”
Barshisha berkata, “Itu perbuatan
terlarang, aku tidak akan melakukan perbuatan keji itu.”
Iblis lalu berkata lagi, “Bunuh orang
mukmin!”
Barshisha menjawab tegas, “Aku tidak
akan melakukan itu!”
Tak mau kalah, lalu Iblis berkata:
“Minum khamar yang memabukkan, karena ini adalah yang paling ringan dan Allah
akan mudah mengampunimu.”
Barshisha kemudian berkata,
“Minum-minuman yang memabukkan juga sebuah larangan.”
Iblis kemudian berkata, “Minum
sedikit saja dan jangan sampai engkau mabuk!”
Mulai luluh dengan bujuk rayu iblis,
Barshisha lanjut bertanya, “Dimana aku akan melakukannya?”
Iblis menjawab, “Pergilah ke desa
ini!”
Barshisha kemudian segera pergi
menuju tempat yang disebutkan oleh pemuda ahli ibadah.
Di tempat tersebut, ia melihat sebuah
warung yang menjual minum-minuman keras. Barshisha kemudian memesan dan
menenggak satu gelas. Karena sebelumnya belum pernah minum, ia langsung
setengah mabuk, ketagihan dan minta tambah hingga mabuk parah.
Melihat penjual warung bertubuh
langsing dan cantik, Barshisha lalu berbuat zina. Setelah berbuat zina,
Barshisha membunuh perempuan tersebut karena takut apa yang diperbuatnya akan
diketahui orang.
Dalam keadaan seperti itu, Iblis
menyamar sebagai suami perempuan penjual minum-minuman keras dan melaporkan
kejadian tersebut kepada hakim dan masyarakat.
Barshisha pun akhirnya ditangkap
beramai-ramai dan dihukum jilid sebanyak 80 kali karena minum khamar, 100 kali
karena berzina, dan disalib sebab telah membunuh.
Dalam keadaan tersalib, Iblis muncul
sebagai orang ahli ibadah yang pernah ditemuinya. Kemudian Iblis bertanya:
“Bagaimana keadaanmu?”.
Barshisha kemudian menjawab, “Barang
siapa menuruti ajakan jelek, maka inilah balasannya”.
Iblis lalu berkata, “Selama 220 tahun
aku tersiksa karena ibadahmu, hingga aku menjerumuskanmu seperti ini. Namun
apabila kamu ingin bebas, aku bisa membebaskanmu”.
Barshisha lanjut berkata, “Bagaimana
caranya?”
Iblis lanjut berkata, “Sujudlah
kepadaku satu kali!”
Barshisha kemudian berujar, “Aku
tidak dapat melakukan itu dalam keadaan tersalib seperti ini”.
Iblis lalu berkata lagi, “Sujudlah
dengan Isyarah!”.
Barshisha pun sujud dengan Isyarah
dan kufur kepada Allah SWT serta meninggal dunia tanpa membawa keimanan.
Na’udzubillahi min dzalik.
Kisah ini diambil dari buku 101
Cerita Penegak Iman Peluhur Budi karya KH. Moch. Djamaluddin Ahmad (Pengasuh
pondok pesantren Tambakberas) Jombang, Jawa timur terbitan Pustaka Al-Muhibbin.
Hikmah yang Bisa Diambil
Kisah ini menjadi pembelajaran bagi
kita untuk tak mengusahakan diri kita sebaik mungkin menjauh dari segala
larangan Allah SWT.
Jangan sekali-kali berpikir untuk
sengaja berbuat maksiat karena nanti Allah SWT akan mengampuni dosa hamba-Nya.
Sebab kita tidak tahu, apakah setelah melakukannya kita masih diberikan
kesempatan bertaubat atau tidak.
Dan kita tidak tahu, apakah setelah
berbuat maksiat apakah kita masih diberikan kesempatan hidup dan memperbaiki
segalanya.
Selain itu, penting juga untuk kita
memahami bahwa ibadah juga harus diimbangi dengan ilmu. Karena saat dibarengi
dengan ilmu, keimanan dan ketaqwaan kita akan lebih kuat.
Membuat kita lebih memahami mana yang
baik dan buruk dengan lebih jelas. Sehingga ketika godaan muncul, kita akan
bisa menepis dan tidak terjerumus dengan hal itu.
Semoga Allah SWT senantiasa
membimbing kita pada jalan yang lurus. Serta mendekatkan kita pada lingkungan
yang baik dan orang-orang yang shalih. Aamiin ya rabbal alamiin.