Kecamatan Ambunten
dikenal sebagai wilayah yang penuh dengan kisah karomah waliyullah. Seperti
kisah karomah Kiai Macan alias Raden Demang Singoleksono yang dikisahkan
memiliki banyak karomah, salah satunya ialah ketika ada warga kemalingan, cukup
dengan menabuh kentongan kecil, maka saat itu juga si maling menyerahkan diri
sekaligus membawa kembali barang curiannya.
"Kiai Macan
juga dikenal dengan karomahnya yang menaiki pe-sapean pappa (pelepah pisang
yang biasa dibuat sapi-sapian oleh anak kecil) sembari terbang saat mengambil
panji-panji Keraton Sumenep yang dibawa ke Blambangan. Pulangnya beliau naik
Mondung (Hiu) seorang diri,"kata Nyai Hajjah Munifah, salah satu keturunan
Kiai Macan di Desa Ambunten Timur.
Tak hanya kisah
kekeramatan Kiai Macan, ada lagi kisah karomah 2 wali di Ambunten yang konon
masih bisa terlihat hingga saat ini pada orang-orang tertentu. Yaitu kisah
karomah 2 wali di Sungai Pandi Ambunten Tengah.
Syahdan, di suatu
masa sekitar pertengahan tahun 1800-an hiduplah seorang ulama besar di Ambunten
bernama Kiai Rausyi. Kiai Rausyi masih memiliki hubungan darah dengan Kiai
Macan Ambunten. Beliau juga disebut masih berkerabat dengan Kiai Mahmud
Aengpanas, ayah Kiai Imam, pendiri pesantren Karay, Ganding.
"Suatu ketika
Kiai Mahmud diriwayatkan bertamu ke kediaman Kiai Rausyi yang berada di pinggir
Sungai Pandi, yang sekarang masuk wilayah Desa Ambunten Tengah,"kata Kiai
Raheli, yang leluhurnya memiliki hubungan kekerabatan dengan Kiai Rausyi.
Sesampainya di
kediaman Kiai Rausyi, Kiai Mahmud berkata pada Kiai Rausyi bahwa dirinya ingin
makan ikan laut. Lalu Kiai Rausyi bergegas mengambil jaring yang biasa
digunakan para nelayan dan menghamparkannya ke halaman rumah beliau. Seketika
atas ijin Allah, jaring dipenuhi oleh ikan-ikan laut yang masih hidup dan
menggelepar di jaring tersebut.
"Akhirnya
dimasaklah ikan-ikan tersebut oleh Kiai Rausyi dan dihidangkan kepada Kiai
Mahmud,"cerita Kiai Raheli. Setelah selesai makan, Kiai Rausyi seperti
yang ditirukan Kiai Raheli berkata pada Kiai Mahmud, "sekarang giliranmu,
saudaraku".
Mendengar itu, Kiai
Mahmud mengambil sisa-sisa ikan bakar yang kepalanya masih menyatu dengan
tulang sampai ekor, namun sudah tiada berdaging, karena telah dimakan. Ikan
bakar tersebut lalu dilempar oleh Kiai Mahmud ke sungai Pandi yang tak jauh
dari situ. Ajaib, ikan yang tak berdaging itu atas ijin Allah hidup dan
berenang-renang di sungai.
"Ikan tersebut
hingga saat ini dari cerita warga kadang menampakkan diri. Namun tidak
semua orang bisa menjumpainya di Sungai Pandi,"kata Raden Imamiyah,
keturunan Kiai Macan sekaligus Kiai Mahmud, yang ada di Ambunten.
Namun, konon, seperti yang dikatakan Imamiyah, biasanya warga atau orang
yang melihatnya tidak lama hidup alias pendek umurnya. "Dari dulu memang
dikenal seperti itu. Tapi yang namanya mati itu ya tetap dikembalikan pada
ketentuan Allah. Sudah ajalnya,"tutup Imamiyah.

0 Comments:
Posting Komentar