Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Diperkirakan masih seputaran abad itu pula Islam masuk ke banyak daerah di Indonesia termasuk ke Jawa Barat melalui aktivitas perdagangan. Islam menjadi sebuah kekuatan politik di wilayah Jawa Barat terjadi pada ke-14/15 Masehi. Dua kerajaan utama sebagai pusat kekuasaan Islam adalah Cirebon dan Banten dengan tokoh utamanya Sunan Gunung Jati dan Fatahillah. Melalui kedua tempat dan kedua orang inilah Agama Islam menyebar ke wilayah pedalaman di Jawa Barat.

AWAL MULA ISLAM MASUK KE TANAH SUNDA
Pada tahun 1513, Tome Pires menceritakan bahwa pelabuhan Cirebon tiap hari disinggahi tiga atau empat buah kapal (junk) untuk berlabuh. Dari pelabuhan ini diekspor beras, jenis-jenis makanan, dan kayu dalam jumlah banyak sebagai bahan membuat kapal. Penduduknya berjumlah sekitar 1.000 orang . Cirebon sebagai kota pelabuhan sudah berlangsung sejak lama, yakni sejak Cirebon menjadi vassal Kerajaan Sunda . Konsekuensi sebagai vassal Kerajaan Sunda, setiap tahun Cirebon menyerahkan upeti berupa garam dan terasi Sebelum tempat yang sekarang menjadi kota Cirebon dihuni orang, tidak jauh di sebelah utara tempat itu terdapat kehidupan masyarakat. Masyarakat yang tinggal di tempat itulah yang merupakan cikal bakal penduduk kota Cirebon. Di situ terdapat pelabuhan Muhara Jati dan Pasambangan.
Pada perempat pertama abad ke-14 Masehi saudagar-saudagar yang berasal dari Pasai, Arab, India, Parsi, Malaka, Tumasik (Singapura), Palembang, Cina, Jawa Timur, dan Madura datang berkunjung ke Pelabuhan Muhara Jati dan Pasar Pasambangan untuk berniaga dan memenuhi keperluan pelayaran lainnya. Kedatangan mereka, yang telah memeluk Islam, di Pelabuhan Muhara Jati dan Pasar Pasambangan memungkinkan penduduk setempat berkenalan dengan agama Islam. Banten disebut pertama kali dalam Babad Cirebon (edisi Brandes) sebagai tempat singgah Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati ) ketika ia baru tiba di Pulau Jawa sepulangnya dari Tanah Arab. Di Banten waktu itu telah ada yang menganut agama Islam, walaupun masih merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Pajajaran. Penduduk Banten diislamkan oleh Demak dan Cirebon tanpa peperangan. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, pada waktu Syarif Hidayatulloh singgah di Banten, tempat itu telah menjadi kota pelabuhan.
Menurut Tome
Pires, Banten pada tahun 1513 merupakan pelabuhan dagang milik Kerajaan Sunda .
Empat belas tahun kemudian (1627) orang Portugis lain bernama Barros
mendapatkan Banten sebagai kota pelabuhan besar sejajar dengan Malaka dan
Sumatera. Pada tanggal 22 Juni 1596 rombongan orang Belanda yang pertama datang
di Banten dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Ia mendapatkan Banten sebagai
pusat kekuasaan Islam, di samping sebagai kota pelabuhan besar. Di pelabuhan
itu banyak berniaga saudagar dari Cina, Persi, Arab, Turki, India, dan Portugis.
Pada mulanya kota pelabuhan ini merupakan pelabuhan utama Kerajaan Sunda,
kemudian diduduki oleh pasukan Islam dari Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah
(1527). Setelah dikuasai pasukan Islam, Sunda Kalapa berubah nama menjadi
Jayakarta.PENGANUT ISLAM PERTAMA DI TANAH SUNDA
Pada paruh pertama abad ke-14. Sumber sejarah lokal yang dicatat oleh Hageman (1866) menyebutkan bahwa penganut Islam yang pertama datang ke Jawa Barat adalah Haji Purwa Purwa atau Syekh Maulana Saifuddin atau Bratalegawa pada tahun 1250 Jawa atau 1337 Masehi.
Haji Purwa adalah putera Kuda Lalean.
Haji Purwa masuk Islam ketika ia sedang dalam perjalanan niaga ke India. ia kemudian memutuskan untuk menganut agama Islam sebagai agama barunya. Bersama isteri dari keturunan Arab yang bernama Farhanah putra Muhamad yang juga ditemuinya di Gujarat, Haji Purwa atau Bratalegawa memutuskan untuk berziarah dan melaksanakan ibadah Haji ke kota suci Makah di Jazirah Arab. Haji Purwa berupaya untuk mengislamkan adiknya yang yang bernama Dewi Banawati atau Dewi Mayangsari saat itu sedang berkuasa di kerajaan pedalaman di Tatar Sunda. Akan tetapi upayanya itu gagal. Akhirnya Haji Purwa meninggalkan Galuh dan kemudian menetap di Cirebon Girang. Ketika Haji Purwa atau Syekh Maulana Saifuddin tinggal di Cirebon Girang, daerah ini dikepalai oleh Ki Gedeng Kasmaya. Ia masih bersaudara dengan penguasa di Galuh. Selain Haji Purwa, tokoh muslim yang tinggal di Tatar Sunda adalah Syekh Quro. Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari disebutkan bahwa Dukuh Pasambangan didatangi guru-guru agama Islam antara lain dari Campa, bernama Syekh Hasanuddin putera Syekh Yusuf Sidik. Ia seorang ulama terkenal di Campa . Syekh Hasanuddin mendirikan pondok di Quro, Karawang. Karena itulah Syekh Hasanuddin kemudian terkenal dengan nama Syekh Quro. Juru Labuan, Ki Gedeng Tapa, menyuruh puterinya yang bernama Nyai Subang Larang untuk berguru agama Islam di Pondok Quro itu. Dalam perkembangan selanjutnya, Nyai Subang Larang dinikahi oleh Prabu Siliwangi , raja Kerajaan Sunda. Tokoh selanjutnya, seorang muslim yang tinggal di Tatar Sunda pada periode-periode awal adalah Syekh Datuk Kahfi yang dikenal juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurjati. Ia adalah seorang yang berasal dari tanah Arab. Syekh Datuk Kahfi datang ke Pasambangan sebagai utusan Raja Parsi. Kedatangan Syekh Datuk Kahfi ini disertai oleh dua puluh orang pria dan dua orang wanita. Kedatangan mereka diterima dengan baik, diberi tempat, dan dimuliakan oleh Ki Gedeng Jumajan Jati. Walangsungsang (Cakrabuana) bersama istrinya yang bernama Endang Ayu, dan adiknya yang bernama Nyai Lara Santang disuruh oleh Ki Gedeng Jumajan Jati untuk berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahfi yang mendirikan pondok di Bukit Amparan Jati Setelah berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, Walangsungsang mendapat julukan Samdullah atau Cakrabumi. Atas petunjuk gurunya, Walangsungsang mendirikan pondok dan tajug di Dukuh Kebon Pasisir. Tempat ini yang semula merupakan tegal alang-alang kemudian menjadi desa yang dikepalai seorang kuwu. Tempat ini kemudian dinamakan Caruban atau Caruban Larang. Dalam perkembangan selanjutnya, para pedagang yang semula mengunjungi pelabuhan di Muara Jati, Dukuh Pasambangan kemudian pindah ke Pelabuhan Caruban sehingga desa itu kemudian tumbuh menjadi perkotaan. Dengan demikian, pada paruh pertama abad ke-14 di Tatar Sunda sudah ada pemukiman orang Islam, terutama di Cirebon. Pada tahun 1513, sebagaimana ditututrkan oleh Tome Pires, sebagian masyarakat Jawa Barat, yaitu penduduk kota pelabuhan Cirebon dan kota pelabuhan Cimanuk (Indramayu) sudah beragama Islam. Agama Islam yang masuk ke wilayah Jawa Barat dibawa oleh Haji Purwa, orang Galuh yang diislamkan di Gujarat oleh saudagar berkebangsaan Arab; kemudian Syekh Quro, seorang muslim yang datang dari Campa; dan Syekh Datuk Kahfi, seorang muslim berkebangsaan Arab yang datang ke Tatar Sunda sebagai utusan raja Parsi. Tempat yang pertama kali dijadikan pemukiman orang Islam adalah Cirebon. Dari tempat inilah agama Islam kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.



0 Comments:
Posting Komentar