Lantas bagaimana
islam bisa masuk ke Indonesia dan bagaimana caranya ?
Sebelum islam masuk ke Indonesia, berbagai macam agama
dan kepercayaan dianut oleh masyarakat, seperti animisme, dinamisme, Hindu, dan
Buddha. Namun, ajaran Rasulullah SAW memasuki Nusantara lewat jalur perdagangan
secara berangsur-angsur dan tanpa paksaan. Hal itu membuat Islam mudah diterima
masyarakat. sejak abad ke-7 Masehi (abad ke-1 Hijriah), Selat Melaka mulai
dilalui para pedagang muslim dari bangsa Arab, yang sejak masa Khilafah Utsman
bin Affan telah mengembara lewat jalan darat dan lautan Hindia sampai ke Negeri
Cina.
Di negeri yang mereka singgahi, pengembara muslim
membuat perkampungan, misalnya di pantai Malabar (Gujarat) di pesisir barat
India dan Sailan (Sri Lanka). Karenanya, muncul kesan seolah-olah Islam yang
datang ke Indonesia berasal dari pedagang muslim Gujarat, bukan Bangsa Arab.
Selain berniaga, para pengembara muslim tersebut turut menyebarkan ajaran Islam
di Nusantara. Banyak di antaranya yang memilih menetap di negeri yang mereka
singgahi, termasuk di Melaka, hingga berkeluarga dengan orang pribumi.

Menjelang masa-masa akhir kerajaan samudera pasai, terjadi beberapa pertikaian yang mengakibatkan perang saudara. Diceritakan bahwa Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521. Maka Sejak saat itu, semakin banyak warga Pasai yang pergi merantau ke Tanah Jawa, terutama ke Jawa Timur, lalu menetap di sana, ke pusat kekuasaan Majapahit.
Salah seorang warga Pasai yang datang ke Jawa adalah Fatelehan
(Fatahillah / Syarif Hidayatullah). Ia merantau ke Jawa karena negerinya
diserang Portugis. Di Jawa, ia berkarir sebagai panglima perang Demak, untuk
mengalahkan Galuh dan Pajajaran. Hingga akhirnya, ia sukses mendirikan Banten
dan Cirebon.
Gerakan penyiaran ajaran Islam di Jawa tak lepas dari
peran para wali. Meskipun jumlahnya banyak, namun ada sembilan nama yang dikenal
dengan sebutan walisanga, yaitu: Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), Sunan
Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang
(Maulana Makdum Ibrahim), Sunan Giri (Raden Paku), SunanDrajat (Raden Qasim), Sunan
Kudus (Jaffar Shadiq), Sunan Kalijaga (Raden Mas Said), dan Sunan Muria (Raden
Umar Said).
Jika membuka kembali lembaran buku sejarah, di tanah Sulawesi pada abad ke-15 telah berkembang agama islam melalui perantara pedagang-pedagang Muslim yang berasal dari Melaka, Jawa, dan Sumatera. Perkembangan Islam di Sulawesi memang belakangan setelah Melaka, Jawa, dan Sumatera lebih dulu mengenal ajaran islam yang berkembang di Jazirah Arab

Pada saat itu, terdapat beberapa kerajaan, seperti Kerajaan Gowa-Tallo, Bone, Wajo, dan Sopang. pada 1562-1565, Kerajaan Gowa-Tallo, di bawah pimpinan Raja Tumaparisi Kolama berhasil menaklukan daerah Selayar, Bulukumba, Maros Mandar, dan Luwu.
Pada masa itu,di Gowa-Tallo sudah ada kelompok-kelompok masyarakat muslim dalam jumlah besar. Kemudian, atas jasa Dato Ribandang dan Dato Sulaemana, penyebaran Islam kian intens dan memperoleh kemajuan yang pesat.
Pada 22 September 1605, raja Gowa, I Mangari Daeng Manrabbia I Tumingana ri Gaukanna, mengucap dua kalimat syahadat, kemudian mengubah namanya menjadi Sultan Alauddin. Beliau menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Ternate dan bersahabat baik dengan Sultan Baabullah. Akhirnya, Kerajaan Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan bercorak Islam dan gencar melakukan perluasan wilayah.
Masa Penjajahan terdapat pejuang-pejuang Islam yang gencar menentang perendahan, perampasan, dan perampokan terhadap nila dan hak-hak manusia, seperti Sultan Trenggono (Kasultanan Demak) yang mengirim bala tentara untuk menggempur benteng Portugis di Sunda Kelapa. Pada 1628, Sultan Agung Hanyakarakusuma (Kesultanan Mataram) mengirim 10.000 tentara yang dipimpin oleh Bupati Kendal, Tumanggung Bahureksa, untuk menggempur Benteng Holandia, pusat kekuasaan VOC di Batavia. Selain itu, tahun 1825 hingga 1830 terjadi perang Diponegoro dengan seruan jihad fi sabilillah. Masa Perang Kemerdekaan Pada 10 Mei 1908, berdiri Budi Utomo dengan tujuan memperluas kesempatan masyarakat lokal mendapatkan pendidikan pengajaran yang layak sebagai usaha mengangkat derajat bangsa. Kemudian, atas gagasan Haji Samanhudi dan Raden Mas Tirtoadisuryo didirikan perkumpulan dengan nama Sarekat Dagang Islam pada 1909. Hingga pada 1912, atas usul Haji Oemar Said Cokroaminoto, gerakan ini diperluas dan berganti nama menjadi Sarekat Islam. Di tahun yang sama, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta. Beberapa tahun berselang, tepatnya pada 1926, berdiri Nahdlatul Ulama dengan ketua pertamanya Kyai Haji Hasyim Asy'ari.

0 Comments:
Posting Komentar