Dinukil
dari kitab Sittuna Qishshah, Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan
kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Ikrimah Ibnu Ammar, dari
Damdam ibnu Jausy Al-Yamami yang mengatakan bahwa:
Abu
Hurairah pernah berkata kepadanya: "Hai Yamami...! Jangan sekali-kali kamu
mengatakan terhadap seseorang, 'Semoga Allah tidak mengampunimu,' atau 'Semoga
Allah tidak memasukkan mu ke dalam surga'."
Yamami
berkata: "Hai Abu Hurairah...! Sesungguhnya kalimat tersebut biasa
dikatakan oleh seseorang terhadap saudaranya dan temannya jika dia dalam
keadaan marah."
Abu
Hurairah r.a berkata: "Jangan kamu katakan hal itu, Kerana sesungguhnya
aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Dahulu di kalangan umat Bani
Israil terdapat dua orang lelaki. Salah seorangnya rajin beribadah, sedangkan
yang lainnya zalim terhadap dirinya sendiri dia ahli maksiat."
Dinukil
dari kitab Sittuna Qishshah, Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan
kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Ikrimah Ibnu Ammar, dari
Damdam ibnu Jausy Al-Yamami yang mengatakan bahwa:
Abu
Hurairah pernah berkata kepadanya: "Hai Yamami...! Jangan sekali-kali kamu
mengatakan terhadap seseorang, 'Semoga Allah tidak mengampunimu,' atau 'Semoga
Allah tidak memasukkan mu ke dalam surga'."
Yamami
berkata: "Hai Abu Hurairah...! Sesungguhnya kalimat tersebut biasa
dikatakan oleh seseorang terhadap saudaranya dan temannya jika dia dalam
keadaan marah."
Abu
Hurairah r.a berkata: "Jangan kamu katakan hal itu, Kerana sesungguhnya
aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Dahulu di kalangan umat Bani
Israil terdapat dua orang lelaki. Salah seorangnya rajin beribadah, sedangkan
yang lainnya zalim terhadap dirinya sendiri dia ahli maksiat."
Dinukil
dari kitab Sittuna Qishshah, Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan
kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Ikrimah Ibnu Ammar, dari
Damdam ibnu Jausy Al-Yamami yang mengatakan bahwa:
Abu
Hurairah pernah berkata kepadanya: "Hai Yamami...! Jangan sekali-kali kamu
mengatakan terhadap seseorang, 'Semoga Allah tidak mengampunimu,' atau 'Semoga
Allah tidak memasukkan mu ke dalam surga'."
Yamami
berkata: "Hai Abu Hurairah...! Sesungguhnya kalimat tersebut biasa
dikatakan oleh seseorang terhadap saudaranya dan temannya jika dia dalam
keadaan marah."
Abu
Hurairah r.a berkata: "Jangan kamu katakan hal itu, Kerana sesungguhnya
aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Dahulu di kalangan umat Bani
Israil terdapat dua orang lelaki. Salah seorangnya rajin beribadah, sedangkan
yang lainnya zalim terhadap dirinya sendiri dia ahli maksiat."
Dinukil dari
kitab Sittuna Qishshah, Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada
kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Ikrimah Ibnu Ammar, dari Damdam
ibnu Jausy Al-Yamami yang mengatakan bahwa:
Abu Hurairah pernah
berkata kepadanya: "Hai Yamami...! Jangan sekali-kali kamu mengatakan
terhadap seseorang, 'Semoga Allah tidak mengampunimu,' atau 'Semoga Allah tidak
memasukkan mu ke dalam surga'."
Yamami berkata: "Hai
Abu Hurairah...! Sesungguhnya kalimat tersebut biasa dikatakan oleh seseorang
terhadap saudaranya dan temannya jika dia dalam keadaan marah."
Abu Hurairah r.a berkata:
"Jangan kamu katakan hal itu, Kerana sesungguhnya aku pernah mendengar
Rasulullah bersabda: "Dahulu di kalangan umat Bani Israil terdapat dua
orang lelaki. Salah seorangnya rajin beribadah, sedangkan yang lainnya zalim terhadap
dirinya sendiri dia ahli maksiat."
Dinukil dari kitab Sittuna Qishshah, Imam Ahmad
mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada
kami Ikrimah Ibnu Ammar, dari Damdam ibnu Jausy Al-Yamami yang mengatakan
bahwa:
Abu Hurairah pernah berkata kepadanya: "Hai Yamami...!
Jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap seseorang, 'Semoga Allah tidak
mengampunimu,' atau 'Semoga Allah tidak memasukkan mu ke dalam surga'."
Yamami berkata: "Hai Abu Hurairah...! Sesungguhnya kalimat
tersebut biasa dikatakan oleh seseorang terhadap saudaranya dan temannya jika
dia dalam keadaan marah."
Abu Hurairah r.a berkata: "Jangan kamu katakan hal itu,
Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:
"Dahulu di
kalangan umat Bani Israil terdapat dua orang lelaki. Salah seorangnya rajin
beribadah, sedangkan yang lainnya zalim terhadap dirinya sendiri dia ahli
maksiat."
Keduanya sudah seperti saudara. Orang yang rajin ibadah
selalu melihat saudaranya berbuat dosa dan mengatakan kepadanya, "Hai
kamu, hentikanlah perbuatanmu." Tetapi saudaranya itu menjawab:
"Biarlah aku dan Tuhanku, apakah kamu ditugaskan untuk terus
mengawasiku?"
Hingga pada suatu hari yang rajin beribadah melihat
saudaranya ahli maksiat itu melakukan suatu perbuatan dosa yang menurut
penilaiannya sangat besar dosanya.
Maka dia berkata kepadanya: "Hai kamu, hentikanlah
perbuatanmu." Dan orang yang ditegurnya menjawab: "Biarlah aku, ini
urusan Tuhanku, apakah engkau diutuskan sebagai pengawasku?"
Maka yang rajin beribadah berkata: "Demi Allah! Semoga
Allah tidak memberi keampunan kepadamu, atau semoga Allah tidak memasukkanmu ke
syurga untuk selama-lamanya."
Abu Hurairah melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Allah
mengutus seorang malaikat untuk mencabut nyawa kedua orang tersebut, dan
keduanya berkumpul di hadapan Allah.
Maka Allah Ta'alla berfirman kepada orang yang berdosa:
"Pergilah, dan masuklah ke dalam surga kerana rahmat-Ku."
Sedangkan kepada yang lainnya Allah ta'alla berfirman:
"Apakah kamu merasa alim? Apakah kamu mampu meraih apa yang ada di tangan
kekuasaan-Ku? Bawalah dia ke dalam neraka!"
Rasulullah bersabda: "Demi Tuhan yang jiwa Abul Qasim
berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya orang tersebut (yang
masuk neraka) benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang menghancurkan dunia
dan akhiratnya."
Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadist Ikrimah ibnu
Ammar, bahwa Damdam ibnu Jausy menceritakan kepadanya dengan lafaz yang sama.
Bayangkan, jika ahli ibadah yang mendoakan sedemikian
terhadap saudaranya pun sudah dimasukkan ke neraka. Apa lagi kalau ucapan itu
dibuat oleh bukan ahli ibadah.
Na'udzu billahi min dzaalik.

0 Comments:
Posting Komentar